Artikel Kesehatan
Mengembangkan Potensi yang Berkualitas

Sharing Kesehatan: Pertolongan Pertama Kejadian Gawat Darurat di Rumah
Penulis: Vanny Pebteson, IIPOJK Bengkulu
“Ibuuuuu, tangan adek kena setrikaan!”
“Tolong, Bapak ngga bangun-bangun ….”
Kalimat di atas mungkin pernah terjadi di rumah kita. Kejadian yang tidak terduga dan biasanya membuat kita bingung dan panik. Apalagi ditambah dengan tidak dimilikinya ilmu dan pengalaman untuk melakukan tindakan pertolongan pada kejadian tersebut. Oleh karena banyaknya kejadian kegawatan yang terjadi di rumah, IIPOJK Bengkulu mengadakan kegiatan Sharing Kesehatan: Pertolongan Pertama Kejadian Gawat Darurat di rumah pada November 2024. Narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Ners. Forman Kurniawan, Skep, MKM.
Dalam pemaparannya, Ners Forman menekankan manfaat pentingnya pertolongan pertama saat di rumah, yaitu bisa menyelamatkan jiwa, mencegah kecacatan, dan memberikan rasa nyaman juga mendukung penyembuhan. Selain kejadian luka bakar atau tersedak, yang umumnya terjadi adalah peristiwa cardiac arrest atau yang kita kenal dengan henti jantung. Tindakan pertolongan pertama untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang mengalami henti jantung atau berhenti napas disebut dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP).
Resusitasi Jantung Paru (RJP) dilakukan dengan cara memberikan kompresi dada dan napas buatan. Tindakan ini penting dilakukan karena organ jantung tidak bisa memompa darah ke seluruh tubuh saat terjadi henti jantung.
Tahapan melakukan RJP meliputi:
- Cek kesadaran dan denyut nadi korban
- Lakukan kompresi dada sebanyak 30 kali dengan kecepatan 100-120 kali per menit
- Dongakkan kepala korban
- Beri napas buatan sebanyak 2 kali dalam 3 detik
- Ulangi siklus 30:2 sampai korban sadar atau tim medis datang
Pastikan saat melakukan RJP, kita juga tetap memanggil bantuan medis atau ambulans.
Adapun penanganan pada korban yang mengalami tersedak adalah dengan melakukan tindakan Heimlich Maneuver, hentakan perut, hentakan dada, dan hentakan punggung. Karena peristiwa tersedak bisa mengancam nyawa, terlebih lagi membuat korban kesulitan bernapas, batuk tidak berbunyi, kebiruan (sianosis), tidak mampu berbicara, dan biasanya korban merespon dengan memegang daerah leher.
Untuk penanganan luka bakar Ners Forman menyampaikan: “biasanya Ibu-Ibu kalau anak terkena luka bakar yang dilakukan adalah mengoleskan odol. Tindakan tersebut tidak tepat”. Seharusnya yang dilakukan adalan jauhkan anak terlebih dahulu dari sumber panas, lalu cuci luka bakar dengan air dingin yang mengalir selama 10-20 menit, tepuk-tepuk kulit hingga kering, oleskan salep pelembab atau petroleum jelly, tutupi luka dengan perban steril, dan berikan obat anti nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen.