Artikel Kesehatan
Mengembangkan Potensi yang Berkualitas

Menghadapi Empty Nest Syndrome: Agar Hidup Tetap Bahagia
Penulis: Oti Arifin
Saat anak-anak tumbuh dewasa dan meninggalkan rumah untuk mengejar pendidikan, karir, atau kehidupan pribadi mereka, banyak orang tua mengalami Empty Nest Syndrome (Sindrom Sarang Kosong). Meskipun tidak dianggap sebagai gangguan klinis namun dampaknya terhadap kesehatan mental dan emosional perlu diwaspadai karena jika tidak ditangani dengan baik dapat berdampak pada gangguan kesehatan fisik.
Apa itu Empty Nest Syndrome?
Empty nest syndrome adalah gambaran kondisi seseorang yang memiliki perasaan sedih, kesepian, kehilangan, kebingungan dan kekosongan emosional yang dialami oleh orang tua, terutama ibu, ketika anak-anak mereka pindah dari rumah. Orang tua mulai merasakan kesepian dan kehilangan tujuan. Perubahan ini sering kali disertai oleh perasaan kehilangan peran sebagai orang tua yang aktif dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka. Meskipun tidak semua orang tua mengalami sindrom ini, banyak yang merasa bahwa transisi ini merupakan kondisi emosional yang cukup berat.
Fase sarang kosong banyak dialami oleh orang tua umur dewasa madya (45 – 65 tahun). Pada usia ini orang tua menghadapi periode saat anak mulai hidup mandiri dan meninggalkan rumah secara permanen (Mitchell & Lovegreen, 2009). Sindrom sarang kosong cenderung dialami oleh seorang ibu, terutama jika mereka masih memiliki pandangan tradisional mengenai peran ibu (Raup & Myers, 1989).
Pada umumnya orang tua akan merasakan kebanggaan pada anak yang telah dewasa dan berhasil mandiri. Namun di sisi lain, kepergian anak dari rumah dapat memunculkan masalah bagi orang tua, antara lain berdampak pada gejala psikologis dan krisis identitas pada orang tua (Bassof, dalam Santrock, 2002).
Bila orang tua menunjukkan respon kurang dapat menyesuaikan dalam fase ini, maka mereka akan merasa tertekan, depresi, dan kesedihan yang berlebih.
Gejala Empty Nest Syndrome Yang Umum Dialami
- Kesedihan yang mendalam karena anak-anak yang dulu selalu ada di rumah kini tinggal jauh.
- Beberapa orang tua mengalami depresi dan kecemasan berlebihan yang ditandai dengan uring-uringan tanpa sebab, hidup tidak bergairah lagi, malas beraktivitas, mudah marah, malas berinteraksi dengan orang lain, dan mudah tersinggung.
- Orang tua, terutama ibu, merasa kehilangan peran sebagai pengasuh utama anak-anaknya.
- Kekhawatiran berlebihan dimana muncul rasa khawatir tentang keselamatan dan masa depan anak terutama ketika mereka baru memulai kehidupan mandiri.
- Beberapa orang tua, terutama yang kesehariannya aktivitasnya mengurus anak-anak, merasa hidup mereka kehilangan arah, makna, dan tujuan hidup karena terbiasa merawat anak setiap hari.
- Mengalami gangguan dalam hubungan pernikahan dimana terjadi ketegangan dalam hubungan dengan pasangan, menjadi susah saling mengerti, serta saling menyalahkan. Hal ini terjadi terutama pada pasangan yang tidak terbiasa menghabiskan waktu hanya berdua saja dengan pasangan (tanpa anak-anak).
Beberapa Kasus Empty Nest Syndrome
Michelle Obama, Mantan Ibu Negara Amerika Serikat, bercerita pengalamannya mengalami empty nest syndrome setelah kedua putrinya, Malia dan Sasha, pergi untuk kuliah. Michelle mengungkapkan betapa sulitnya beradaptasi dengan rumah yang tiba-tiba terasa sepi. David dan Victoria Beckham juga pernah membahas perasaan emosional mereka ketika harus berpisah dari anaknya, Brooklyn, yang pindah ke Amerika untuk kuliah.
Mengatasi Empty Nest Syndrome
Untuk para ibu sangat penting untuk mengetahui bahwa empty nest syndrome dapat menimpa kita dan merupakan hal yang wajar serta dapat diatasi dengan berbagai cara. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi gejala ini:
- Temukan hobi/minat baru atau menjalani hobi lama yang tertunda ditekuni. Ketika anak-anak pergi, ini adalah kesempatan untuk menemukan kembali minat dan hobi yang mungkin terlupakan. Mengambil kursus baru, memulai bisnis kecil, atau terlibat dalam kegiatan sosial bisa memberikan tujuan baru dalam hidup dan mengalihkan perhatian.
- Tetap menjaga hubungan dan komunikasi dengan anak. Meskipun anak-anak sudah pergi, teknologi saat ini memungkinkan komunikasi tetap terjaga. Melalui panggilan video, pesan singkat, atau kunjungan terjadwal, orang tua bisa tetap merasa dekat dengan anak-anak mereka.
- Membangun hubungan dengan pasangan dengan lebih mesra. Dengan lebih banyak waktu luang setelah anak-anak pergi, banyak pasangan memanfaatkan momen ini untuk memperkuat hubungan mereka. Pergi berlibur bersama, melakukan kegiatan bersama, atau sekadar menghabiskan waktu berkualitas di rumah bisa mengembalikan keintiman yang mungkin terlupakan selama bertahun-tahun sibuk mengurus anak.
- Mencari dan mendapatkan dukungan emosional. Dukungan emosional yang baik sangat berpengaruh pada penurunan sindrom terutama dari pasangan dan anak-anak serta lingkungan. Pasangan yang semakin sibuk dan tidak memperhatikan pasangan yang mengalami sindrom dapat memperburuk kondisi mental.
- Terlibat dalam kegiatan sosial. Bergabung dengan komunitas atau kelompok sosial seperti yayasan sosial anak jalanan, atau aktif dalam IIPOJK juga bisa menjadi cara yang efektif untuk menyibukkan diri dan saling mendukung satu sama lain dalam menghadapi fase hidup yang baru ini. Dengan berbagi pengalaman, para ibu bisa merasa tidak sendirian dan mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.
- Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Segala permasalahan hidup akan terasa lebih ringan di saat kita lebih mendekatkan diri dengan Sang Pencipta dan sibuk melakukan ibadah yang mungkin dulu saat sibuk mengurus anak-anak tidak sempat dilakukan seperti mendatangi majelis kajian-kajian agama.
Dengan pemahaman dan dukungan yang tepat, empty nest syndrome dapat diatasi. Orang tua dapat menemukan kebahagiaan dan tujuan baru dalam kehidupannya dengan memahami bahwa perubahan ini adalah bagian alami dari fase kehidupan keluarga
Jadi, Nikmatilah fase baru ini dengan rasa optimis dan tetap bahagia.